Jumat, 09 November 2012

MAMUJU : Ujung Bulo Pulau Karampuang


                                            Penulis Numpang Parkir

Pukul 8.42 , Bersandar di dermaga , yang berfungsi sebagai tempat katinting  merapat , dan kami langsung naik ke jembatan penyebrangan menuju Pantai. Jembatan ini menjorok kelaut sampai dibatas pantai yang dalam,  dibuat agar pada saat air pasang surut,  kapal maupun katinting tidak kandas di dasar laut yang dangkal  . lan saat air pasang naik  untuk menikmati keindahan bawa laut yang unik dengan beragam trumbu karang dan ikan2 yang berenang  di dasar laut yang bening.
Keindahan Pulau ini memiliki daya tarik yang memukau bukan saja pasir putih dan lautnya yang bening tetapi juga pada alamnya yang indah memanjakan mata dan pikiran.

Setelah berjalan diatas jembatan  sepanjang kurang lebih 100 meter. Jembatan yang kokoh terbuat dari kayu ulin ( kayu kelas wahid asal Pulau Kalimantan yang memang spesialis tahan segala macam cuaca dan air melebih kekuatan kayu yang lainnya ) yang dikerjakan secara apik, kami tiba dibibir pantai pasir putih, lalu kami berbelok kekanan manapaki batu-batuan untuk menuju ke sebuah Sawung diikuti oleh Nakhoda yang membawa bekal dan peralatan kami.

12892244501508728049
Dermaga ( Foto Skyscapercity.com by Google )

Ada sekitar 7 atau 8 sawung dan rumah-rumah yang khusus dibuat untuk para pelancong yang datang ke Ujung Bulo untuk tempat melepas lelah sekaligus beristirahat letaknya hanya sekitar 25 meter dan menghadap kepantai, disekitarnya  dikelilingi popohonan yang rindang.  Memasuki Area dimana Sawung itu berjejer terasa sejuk angin semilir bertiup dari pantai membelai manis perasaan,  jadi segar dan nyaman.

Di pelataran pasir putih terlihat, beberapa kelompok orang laki2  dan perempuan membuat api unggun juga berjejer rapi saat itu ada 5 gundukan  dari ranting kayu dan sabut kelapa, asapnya mengepul, diatas bara api  yang menyala Ikan Kakap, kurapu dibakar, ikan masih menggelepar tandanya masih ada yang hidup ( penyiksaan he he he he ).

Ikan-ikan didapatkan dengan membali dari nelayan penduduk setempat   atau mancing sendiri dilaut lepas kalau yang gratis, ikannya segar maklum baru ditangkap.
Diantara mereka yang sedang asyik bakar ikan, anak-anak kecil berlari-lari di pasir putih bermain dan bersenda gurau.

Selain itu di pantai yang teduh beberapa orang sedang mandi air laut , anak-anak menggunakan pelampung  yang di sewa Rp.10.000,-/sampai puas  atau bawa sendiri dari rumah.
Disini terdapat juga rumah-rumah khusus bagi pedagang kebutuhan pengunjung, dari makanan sampai rokok, air mineral, dan berbagai macam minuman segar, jadi kalau tak sempat bawa bekal bisa kok datang kesini.

Kami menuju sawung yang terletak disebelah selatan beristirahat sejenak menggelar tikar plastik  karena lantai sawung agak kotor  merebahkan badan, sebelum mulai acara mancing ikan.

12892584852092914160
Perkampungan di P.Karampuang ( Foto Skyskaper.com Google )

MENYIAPKAN ALAT MEMANCING

Hanya butuh waktu 3 menit saja untuk rileks, saatnya untuk memancing. Joran ( Rod )  yang tebuat dari Fiberglass sepanjang 120 cm, penggulung ( Reel ), kail ( hook ), senar ( line ) lengkap dengan pelampung ( floats ) dan timah pemberat aku keluarkan dari tempatnya, lalu merakitnya sendiri berdasarkan buku panduan ( maklum alat pancing yang mewah ini dikirimkan oleh seorang kerabat di Jakarta ).
Untuk menarik ikan agar bersedia di pancing perlu umpan yang cocok dan bagus, kalau umpan yang digunakan kurang mengena di hati ikan tentu tidak akan mau menyambarnya dan gagallah upaya kita untuk mendapatkan kakap  ( bukan saja ikan yang butuh umpan tetapi juga manusia  …anda mengerti maksudku he he he ).

Umpan yang kusiapkan dan sudah kubeli sebelunya adalah umpan alami ( bait )  yang sesuai dengan makanan ikan yang ada disekitar pulau berupa cacing, udang dan pelet.
Kalau umpan tiruan ( lure ) tentu sudah tersedia, dikirim 1 set dengan alat pancingnya, umpan ini  pas menyerupai makanan ikan dihabitat aslinya, panteslah lure ini hanya digunakan untuk ikan-ikan predator yang galak-galak di laut karena bentuknya yang specifik dan agak keras berwarna-warni menyala  ( umpan ini paling pantas untuk mancing …….dan berburu Hiu atau baracuda  kale, bcanda he he he ).

12892588371033785044
beningnya air laut P.Krpuang ( Foto vibizlife Google )


MEMANCING

Setelah sarana dan prasarana memancing sudah lengkap, katinting pun siap aku lalu meluncur ditemani oleh sang Nakhoda turun kelaut untuk memulai aktifitas mancing-memancing.
Sedang isteri dan anakku tinngal di daratan menjalankan aktifitasnya sebagai touris domestik, menyiakan segala sesuatunya untuk disantap setalah kami menyelesaikan segala rangkaian kegiatan liburan akhir pekan di Tanjung Bulo.
Pukul 9.10 Wita , katinting bergerak menuju alamat yang ditunjukkan oleh Nakhoda guideku, di sebuah gugusan karang hanya 75 meter dari pantai sejajar dengan batu cadas  hidup di pesisir ( bentuknya menakjubkan)

Sauh diturunkan dan kapal berlabuh  di laut yang dalam ( dalamnya sekitar 7 meteran, tak sempat diukur sory) kusiapkan sarananya, umpan dipasang dan sregg pancing melayang jatuh kelaut byurrr.
Menunggu tak sampai 3 menit tiba-tiba seperti ada sesuatuyang menyambar mata kail dan menarik , aku sedikit gugup karena tarikannya berat, joran melengkung 15 derajat strike ( istilah pemancing dapet kale ya ?? )  gulungan kuputar agar senar terulur keluar dan mulailah upaya sang ikan membebaskan diri dan aku yang tengah berupaya untuk melakukan tindakan penetrasi dan tekanan tertentu agar Sang ikan tak dapat lepas dari mata kailku. 1 menit bergelut saling adu otot dan otak sang Ikan pun mengalah.

Seekor ikan Kakap batu ,   bentuknya  mirip Kakap merah hanya beda warna kakap batu berwarna gelap bergaris hitam, beratnya sekitar 2 kilogram kunaikkan diatas Katinting ” aghhh legah rasanya, ini tangkapan yang pertama hari itu.

Masih diposisi yang sama mata kail kuarahkan kembali kelaut ditempat semula, dengan harapan kalau2 saja istri atau suami ikan Kakap batu itu  masih ada disana menunggu sang pasangan datang.
Betul juga feeling aku, setelah mata kailku 3 kali kena sambar dan lepas, akhirnya strike dan ikan kakap yang kedua berhasil kunaikkan keatas ketinting, ternyata bukan pasangan dari ikan kakap batu, tapi kakap merah beratnya sekitar 1,5 kg membuatku semakin penasaran ingin  terus melempar pancing dan strike, ternyata ikan yang ketiga seekor ikan sori ( bentuknya panjang, warna putih kelabu, entah apa nama latinnya baru kudapat setelah hampir 1 jam menunggu )

Setelah 3  jam di laut tepatnya pukul 12.00 Wita aku dan guideku sepakat untuk kembali ke darat membawa hasil tangkapan. kebetulan sekali perut sudah terasa lapar dan saatnyalah  ikan-ikan ini dibakar di api unggun suatu seni penyajian ikan bakar segar ala Ujung Bulo.

Makanan lalu disajikan, ketupat, buras ( buras terbuat dari beras ditanak campur santan dan bumbu lalu dibungkus daun pisang kemudian di kukus )  nasi kuning, ayam goreng rica-rica di keluarkan dari rantang. Ikan hasil tangkapan disajikan, kami bertiga makan dengan lahap betapa nikmatnya karunia Tuhan.
Setelah makan kami berjalan menuju Pantai untuk mandi air laut sambil mencari  kulit lokan atau siput laut yang banyak bertebaran di tepi pantai untuk aksesoris atau pajangan di bufet.
Asyik berenang dan bersenda gurau di pantai yang teduh, berkejaran diatas pasir putih terhampar  tak terasa sore datang menjelang dan kamipun seperti pengunjung yang lain kembali ke Sawung.

Setelah ganti pakaian kami menyusuri jalan setapak yang di tumbuhi hutan tropis lebat, kadang-kadang melewati bebagtuan   sampailah kami di sebuah tempat ketinggian ,setelah menemukan tempat yang tepat untuk view menghadap kelaut , lalu membuka bungkusan yang isinya kue perahu ( kue tradisional Mamuju Sulawesi Barat nanti akan ditulis dalam artikel lain ).

Sambil menikmati kue-kue dan minuman penyegar kupandangi kebawah  laut yang telah mulai naik menutupi pasir putih, ombak kecil berkejaran ke pantai, Kota Mamuju terlihat jelas, sambil menikmati matahari yang mulai condong ke Barat warnanya jingga keemasan memantul ke laut biru ,  angin sore berhembus perlahan membelai wajah.

Sekedar Imformasi bahwa Pantai Ujung Bulo di Pulau Karampung telah memiliki sarana dan prasarana yang memadai dan dibangun oleh Pemda kabupaten Mamuju, seperti Sawung, canopy,  panggung dan gedung pertunjukan, serta lainnya. Sayang belum tersedia faslitas untuk Diving, dan olahraga laut lainnya.

Mungkin nanti…

Hari telah senja dan kami bersiap untuk segera pulang. Sampai ketemu jalan-jalan pada  episode berikutnya dalam suasana yang lebih menyengkan.
Aku baru sadar setelah tiba di rumah Camera baru yang kubeli seharga Rp.4 juta merek Canon 100 D raib entah dimana ??
Mamuju, Awal Nopember 2010
Pak Nur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar