Jumat, 09 November 2012

Mamuju : Hilangkan Stress? ke Pulau Karampuang Yuk

Pulau Karampuang dilihat dari Bukit Kelapa tujuh (by virtual tourist Google
Pulau Karampuang dilihat dari Bukit Kelapa tujuh (by virtual tourist Google

Hari Minggu pagi bulan Oktober 2010,setelah menyiapkan segala sesuatunya  bekal makanan dan minuman , peralatan mandi sekaligus peralatan untuk mancing ) , sesuai rencana dan yang direncanakan kami sekeluarga yang terdiri dari 3 orang berangkat dari rumah menuju dermaga penyebrangan yang terletak di Pantai Manakarra hanya sekitar 1 Km dari Rumah.

Tiba di dermaga penyebrangan menuju Ujung Bulo Pulau Karampuang  sekitar jam 7.30 pagi. kelihatan sudah ramai oleh Calon Penumpang yang akan berangkat. Ada beberapa orang  sedang duduk2 bergerombol di bawah atap gedung pelelangan ikan di bangku2 panjang, dan ada  kelompok yang sudah mulai naik keatas perahu  yang menggunakan sayap disisi kiri kanan agar tak oleng ( bagi orang disini disebut katinting ).

Ini dia perahu tempelnya ( Skyskapercity.com by google )
Ini dia perahu tempelnya ( Skyskapercity.com by google )

Katinting ini dapat membawa penumpang  7 atau 8 orang bahkan lebih bisa 10, ngeri juga rasanya menyaksikan kelebihan beban  itu , tapi bagi mereka yang sudah biasa tak ada yang merasa risau.
Biasa kalau hari Minggu apalagi cerah.  Ada sekitar 30 orang yang akan berangkat pagi itu menuju Obyek Wisata Ujung Bulo Pulau Karampuang, sempat-sempatnya aku amati  he he he he .

Untuk menyebrangan ke Pulau Karampuang selain Katinting ada juga perahu bermesin yang bisa muat antara 20 bahkan sampai 50 orang, tap kebanyakan yang memilih perahu katinting karena dengan perahu kecil ini kita bisa lebih dekat untuk menikmati pemandangan bawa laut bahkan dapat menyentuh kalau kebetulan ada ikan atau benda-benda laut yang berada di sekitar kita.

Seorang Pemilik Perahu katinting  mendekatiku dan menawarkan jasanya untuk membawa kami ke Ujung Bulo di Pulau Karampuang dengan tarif satu orang Rp.10.000,- setelah terjadi tawar menawar akhirnya disepakat Rp.100.000 untuk pulang pergi, istilahnya carteran dan karena kami bertiga ( isteri dan anak ikut ) aku tak mau ambil resiko ketika mau kembali harus mencari-cari perahu lagi untuk perjalanan pulang sekaligus  untuk mancing di sekitar Pulau.

                                 Pulau Karampuang dilihat dari bibir Pantai ( foto : Pribadi )

Kami  lalu naik keperahu, setelah pemilik perahu merangkap nakhoda menaikkan barang-barang dan bekal.  Kami akhirnya lepas landas, emangnya pesawat he he he he, pada pukul 8.20 Wita, setelah Nakhoda memberi peringatan agar kami duduk ditengah berjejer saling membelakangi , mesin dihidupkan dan perahu perlahan meninggalkan dermaga, mengarungi selat makassar di pagi yang cerah saat matahari dari timur mulai memancarkan sinarnya.

Nakhoda sempat mengatakan kepada kami bahwa dalam cuaca tenang seperti ini waktu tempuh dari Dermaga Mamuju  ( MU ) ke Dermaga Ujung Bulo ( DUB ) sekitar 15 - 20 menit, memang cuaca saat itu baik,” tidak seperti hari-hari kemarin yang  turun hujan dan sedikit ombak sehingga para penumpang sering2 ada yang mabuk, tapi sejauh ini tak ada kecelakaan yang terjadi bahkan tidak pernah ada .” Nakhoda berusaha menenangkan istri saya yang memang agak cemas dengan kondisi perahu yang kecil, maklum ini perjalanan kami bertiga yang pertama ke Pulau Karampuang.

foto achmad fatoni by Google nelayan di sekitar Pantai Mamuju
foto achmad fatoni by Google nelayan di sekitar Pantai Mamuju.
Setelah berjalan beberapa menit Perahu itu mulai bergerak cepat, gas ditarik kencang air diburitan perahu berputar dan bergejolak  nampak buih putih membentuk garis panjang di laut bening yang dilewati, kami mulai tenang dan mengarahkan pandangan ke bawa laut, nampak dengan jelas karang-karang dan biota laut yang exsotics dalam berbagai macam bentuk , ikan-ikan warna-warni dengan leluasa berenang-renang disekitar tanpa merasa terancam oleh Predator he he he he.

Kami sedang asyik menikmati keindahan bawa laut ketika tiba-tiba sang Nakhoda mengatakan ” kita sudah sampai di Dermaga”, sedikit kesal lantaran merasa terganggu dengan keasyikannya  putraku yang berumur 10 tahun  sempat protes tak mau turun dari perahu saking terpesonanya pada keindahan bawa laut  ” seperti akwarium di rumah kita pak Ya , cuman disini jauh lebih bagus pa, luas, ikannya banyak “. katanya tersenyum.

Ya Iyalah dirumah itu Akuarium kalau yang ini Laut tentu beda dong he he hhe he he, ha ha ha ” kami semua tertawa ramai, Nakhoda pun ikut tertawa..he he he.

Sayang laut bening ini belum dikelola dengan baik. Belum ada Investor yang mau menanamkan modalnya disini, lautku yang indah, mungkin nanti….” pikirku
Kulirik Jam Tanganku Pukul 8.40 Wita….

( Sampai ketemu di Ujung Bulo )…
Mamuju Awal Nopember 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar