Senin, 14 Oktober 2013

KALAU PILKADA LANGSUNG KEMENANGAN DI PEMILUKADA DITENTUKAN OLEH FIGUR DITAMBAH FINANSIAL

Opini Saya MUHAMMAD NUR INNO

 Ilustrasi Foto : M.Nur

Mari kita amati beberapa Pilkada yang baru saja berlangsung di Tanah Air Indonesia, terlihat dengan jelas kecendrungan masyarakat untuk memilih berdasarkan Tokoh yang diusung ( Faktor Figur ) sedang Faktor Partai Pendukung sudah terlihat melemah.

Mari kita reply kebelakang dalam skop Nasional dari sejumlah Pemilukada yang diselenggarakan di Indonesia belakangan ini, kekalahan sejumlah Kandidat yang diusung Partai Besar di Daerah membuktikan hal itu, ada 4 sample  yang  akan penulis tampilkan yaitu  Pemilukada DKI Jakarta,  Pemilukada di Medan, Bali, dan Makassar , namanya artikel pendek penulis tak mungkin menyertakan analisa dalam bentuk paper, namun hanya berupa hasil pengamatam sederhana yang terjadi sekeliling, tentang apa yang dilihat, didengar dan dirasakab berikut ini ulasannya :

Pemilukada DKI Jakarta dimana Jokowi - Ahok menang Dalam putaran kedua Jokowi dan Ahok yang hanya didukung oleh PDI-P dan Gerindra mampu memenangkan pertarungan dengan torehan suara sebanyak  2.472.130 ( 53,82% )  dan mengalahkan Petahana Fauzi Bowo - Nachrowi Ramli  yang diusung Oleh Koalisi Besar, Partai Demokrat, PAN, Hanuram PKB, PBB, Golkar, PKS dan PPP. dengan torehan 2.120.815 suara atau 46,18 %. ( data bersumber dari " ikhti.blogspot  ( Muhammad Ikhwan ) ".

Pemilukada Medan, sebagaimana diketahui bahwa Partai Pemenang Pemilu Legeslatif di Medan adalah Partai Demokrat dengan torehan 34,9%, Golkar 14,7 %, PDI Perjuangan 13,8 %  disusul PKS 11,9 %, dengan komposisi seperti ini semestinya Kandidat yang diusung oleh Partai Demokrat dan Golkar atau PDI-P yang keluar sebagai Pemenang.Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa di Pemilukada Sumatra Utara dimenangkan oleh pasangan yang diusung oleh PKS, Hanura, PPN, Patriot dan PKNU Gatot Pujonugroho - Tengku Ery Nuradi dalam satu putaran dengan torehan suara 33 %.  ( data bersumber dari " ikhti.blogspot  ( Muhammad Ikhwan ) ".

Pemilukada Bali, masih segar dalam ingatan kita Pemilukada Bali yang digelar pada tanggal 15 Mei 2013 yang baru lalu pertarungan antara 2 pasang kandidat dimana keempat person masih menjabat sebagai pejabat publik di provinsi Bali berlangsung alot dan sengit bahkan nyaris imbang antara Pasangan nomor urut 1 (satu) Drs. Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga (Wakil Gubenur Bali 2008-2013 berpasangan dengan Dewa Nyoman Sukrawan, SH Ketua DPRD Kab. Buleleng priode 2009 - 2014 yang diusung PDI-P Partai Pemenang Pemilu di Priovinsi Bali  melawan Pasangan nomor urut 2 (dua) Komjen purnawirawan Made Mangku Pastika Gubernur Bali priode 2008-2013 berpasangan dengan Drs. I Ketut Sudikerta wakil Bupati Badung Bali. yang diusung Partai Demokrat dan Golkar.


Pasangan Mangku Pastika - Ketut Sudikerta yang diusung Partai Demokrat dan Golkar dalam rapat Pleno KPU Provinsi Bali ditetapkan sebagai pemenang Pemilukada Bali 2013 atas pasangan Anak Agung Puspayoga - Nyoman Sukrawan dengan selisih tipis 0,05 % atau sekitar 996 suara saja, dengan kemenangan ini membuktikan pasngan Mangku Pastika - Sudikerta mampu mengalahkan dominasi Partai Besar dan mayoritas di Bali dimana 7 dari 9 Kepala Daerah di Bali di Pegang oleh Kader PDIP.

Pemilukada Makassar sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa pada hari
Rabu (25/9/2013). Dalam rapat pleno KPU Kota Makassar   menetapkan bahwa pasangan  Danny Pomanto- Syamsu Rizal   ( DIA ) yang diusung Partai Demokrat dan PBB keluar sebagai pemenang Pilwali Makassar dengan presentase perolehan suara sebanyak 182.484 (31,18 )  disusul oleh pasangan nomor 9 Irman Yasin Limpo-Busrah Abdullah  yang diusung PAN dan PPP dengan angka 114.032 atau 19,48 persen diurutan kedua, ditempat ketiga ada pasangan No Urut 6 Tamzil Linrung-Das'ad Latief  yang diusung PKS, Hanura dan PBR  dengan torehan  93.868 suara atau 16,04 persen, sedang Pasangan yang diusung Partai Golkar dan PDIP yang menang di Pemilu dan mayoritas di DPRD pasangan Supomo Guntur - Kadir Halid harus puas  berada di Posisi ke-4.

Dari 3 sample dari ratusan gelaran Pilkada yang dilaksanakan antara tahun 2012 dan 2013 diketahui bahwa  sekitar 80 % Pemilukada murni dimenangkan oleh Petahana yang punya keterkenalan dan keterpilahan yang tinggi siapapun Partai yang mengusungnya. sebab Petahana lebih muda memobilisir massa  sebagai pemimpin Daerah tentu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Kandidat lain baik dukungan finansial maupun dukungan sosial dengan dana oprasional yang memadai, diluar dari yang 80 persen penyebab lain yang dapat meruntuhkan dominasi petahana adalah bila pertahana sedang terlibat kasus hukum dan jadi tersangka dalam dugaan tindak pidana apapun bentuknya.

Dalam gelaran Pemilukada yang tidak lagi diikuti  oleh Petahana  pasangan Kandidat dapat dengan leluasa memainkan strategi, dengan asumsi semua kandidat akan memiliki kans yang sama untuk menang,. dalam hal ini Faktor Figur akan sangat berperan menentukan keterpilhan Kandidat, Figur yang memiliki Visi dan Misi, program yang berpigak masyarakat, ditunjang oleh Tim Sukses yang mumpuni yang dapat  membangun opini, presepsi dan argumentasi yang baik kepada   masyarakat tentang figur secara konsisten dan terukur, untuk menang  Kandidat dan Timnya harus mampu memobilisasi massa dengan energi dan dana yang tersedia tidak sampai disitu dibutuhkan kecerdasan TimSes dalam mengelola dana dan energi tidak terbuang sia-sia.

Artikel ini Terlalu panjang yang bisa membuat pembaca bosan dan meninggalkan laman untuk pindah ke artikel lain, penulis cut dan Bersambung  ke bagian kedua pada kesempatan berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar